This is SENYUM VO SEA GAMES slide 1 title

Expresi kebersamaan kita, dalam mensukseskan SEASGAMES 2011

This is Gus Dur, slide 2 title

Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001...

This is "SEMANGAT" slide 3 title

Setiap orang harus merdeka dalam mentukan jalan hidupnya, jangan kalian nodai dengan kepentingan-kepentingan kalian, sehingga mereka merasa adalah BUDAK..

This is Semangat. slide 4 title

Dalam membagun negeri, harus ada rasa kebersamaan...

This is Benderaku slide 5 title

Indonesia harus harum, dan itu pasti BISA..

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

12/12/11

Dunia Daun

Daun kering kerontang
Terhembus angin kencang
Mengena ranting kering pohon
Jatuh di atas tanah batu tembikar.
Merubah merah tanahnya
Menjadi hitam
Lalu akhirnya berubah
Putih tanah surga.

Daunpun dijamah tanah
diceburui cacing lemah
Menyatu dalam bumi
berubah menjadi tanah.

09/12/11

Tapa

Mendekap dalam  peluk dingin pagi
Terdengar ribuan suara, Memekik telinga
 Membangunkan Jiwa yang telah lama
 bersemayam di antara taburan kamboja.

Jiwa merongrong batas kegelisahan
Dimana laknat akan dilahirkan
Sedangkan bisik semilir angin berhembus
Diantara mata air yang mengalir
Memberi harapan kedamaian.

20/11/11

Secangkir Kopi #1

“dunia itu le, bisa dinikmati cukup dengan segelas kopi” kata embahku dulu ketika masih duduk dibangku sekolah dasar. setelah mendengar perkatan kake aku selalu membawa cangkir dan seplastik kopi ke sekolah untuk disiapkan ketika nongkrong, baca buku dibawah rerindang pohon taman sekolah. Dan itu berlangsung sampai bangku SMA.
Teman-teman ku selalu menanyakan kopi racikan ibu setiap kali bertemu denganku Kopi racikan ibu tidak kalah enaknya dengan kopi racikan yang dijual di kantin sekolah dan itu menjadi alasan kenapa aku tidak malu membawa kopi. Bahkan banyak yang pesan sampai berkilo-kilo untuk di jual di warkop-warkop milik orangtua mereka.
…..****…..
Setelah tamat SMA aku berkeinginan meneruskan sekolah di universitas, dan pamitlah aku ke orangtua untuk keinginanku tersebut, namun orang tuaku tidak mengiyakan sepenuh hati karna banyak faktor yang harus dipikirkan. Dengan itu aku berusaha menyakinkan orangtuaku bahwa masalah financial jangan terlalu dipikirkan, “karma aku lelaki, insyallah bisa hidup mandiri tanpa menyusahkan ibu dan bapak” kataku ketika itu. Lalu ibu mesuk kekamar hingga beberapa lama, aku hanya diam dihadapan bapak yang bertatapan kosong, mungkin yang dipikirkan adalah siapa yang bakal membantunya untuk mebiayai sekolah adik-adikku.
“memangnya kamu mau kuliah dimana” kata ibu dengan suara parau yang baru keluar dari kamar.
“jogja atau Jakarta bu”
“apa tidak terlalu jauh” kata bapakku dengan bijak.
“aku bisa numpang sementara dengan kakak kelasku waktu di SMA yang sekarang kuliah disana” jawabku untuk menyakinkan.
Tiba-tiba ibu menghampiriku memberi sesuatu berbungkus kain “ini buat ongkos dan pendaftaran kuliahmu, mungkin hanya ini  saja yang bisa kita berikan”
Aku menolaknya dengan paksa, karma aku masih punya tambungan sisa uang jajan sejak di bangku SMP yang aku simpan dicelengan, lalu ibu menjelasakan bahwa itu hasil dari penjualan kopi selama ini yang memang disengaja disimpan untuk kebutuhan yang mendesak.
Aku terharu dengan itu lantas memeluknya dengan erat sekali” termakasih bu-pak, aku janji akan sekolah dengan sungguh-sungguh”
……****…..
Setelah mendapatkan info benyak mengenai dunia perkuliahan dan info-info pendaftaran kampus-kampus di kota yang aku tuju, berpamitlah aku pada orang tua dengan kemantapan hati bahwa aku bisa menjadi harapan mereka. Dan jakartalah yang menjadi tujuan utamaku, karna aku melihat disana terdapat keunggulan dari kota-kota lain.
Tanpa basa-basi pada orang tua aku meninggalkan keluarga semua. Hanya Dengan membawa perbekalan yang aku miliki dan satu kardus entah yang telah disiapkan oleh ibu, entah berisi apa, tapi yang jelas aroma khas kopi racikan ibu terasa oleh indra penciumku. Aku melangkah menuju stasion pasar turi Surabaya yang tak jauh dari kampong kelahiranku.
Sesampai distasiun mulai terlihatlah hiruk-pikuk calo-calo yang menawarkan jasa, tapi berhubung aku banyak kenal dengan orang-orang disana, tanpa susah payah aku mendapatkan tiket ke Jakarta tanpa perlu tarik-menarik dengan calo-calo itu dan langsung menuju kereta yang tertera pada tiket.
Semasuk dalam kereta aku meliahat persiapan pegelaran panggung rakyat yang aka dimulai dalam gerbong kumuh kelas ekonomi. Yang siap menghibur para penumpang sampai tujuan, dan sanalah letak trdisionalisme bekeabadian sejak pertama kali kereta di negri ini beroprasi.
Tidak putus-putus pagelaran itu, mulai dari pembacaan puisi, musik trdisonal bahkan pagelaran mirip tiater yang menampilkan rialita kehidupan yang terdiri dari para pedagang. “kalau mau minum ya bayar pake uang buka pake dengkul” kata salah satu pedanggan disana dengan suara nyaring. Dan itu berlangsung hingga shubuh berkumandang di pintu stasion cirebon yang terdengar keras dari celah candela gerbong.
“ kang aq dah di crebon, entar dijkrt enk’a aq trun dimna ya”  sms ku yang baru saja kulayangkan pada kang selamet, kakak kelasku yang akan ku minta bantuannya di Jakarta.
Tak lama kemundia hp-ku berdering dengan tanda satu meseg telah ku terima dan aku buka “dstasion senen ja, tak jmpt nati”.
“ ok kang, thx” balasku singkat.
Jam sudah menunjukan 08-45 dan kereta sudah memelankan diri dari pacu rodanya dan terdengar suara “selamat datang bagi para penumpang kreta senja malam di stsiun senen dan jangan sampai lupa pada barang bawaan anda terimakasih” 






14/11/11

Panggung


Orang-orang di kampungku masih mendengkur dibalik selimut. Cak Nur tertatih-tatih lewat di depan rumahku dengan tongkat bututnya. Biasanya memang sebelum fajar menyingsing, ia sudah siap dengan perangkat sholatnya menuju langgar tempat ia mengadu dan mengeluh pada Tuhannya.
Tapi tidak seperti biasa, pagi itu Cak Nur berhenti di sebuah bangunan tua tanpa penghuni. Bangunan itu adalah miliknya yang telah dihibahkan kepada karang taruna kampungku. Iam, pandangannya tajam. Tertuju pada pada ruang-ruang usang.
Pelan-palan Cak Nur memasuki bangunan itu. Di salah satu ruang ia tertahan, tanpa disadari air matanya menetes. Dilihatnya ruang yang pernah menjadi tempat menyimpan harapan, sekarang penuh dengan kertas kecoklat-coklatan berserakan dilantai. Dikumpulkan kertas-kertas itu, lalu dicarinya tulisan, tapi hilang bentuk wujudnya.
Fajar pun datang menyapa bumi dengan rona merahnya, seakan memberi kehangatan pada bangunan tua itu. Cak Nur berlalu dari ruang itu seraya melempar kertas-kertas di genggamannya ke ruang utama.
Di atas lantai berdebu, Cak Nur menggelar sajadah untuk mengeluh kembali pada Tuhannya. Sekalipun di tempat seperti itu, Cak Nur tetap bisa bermesraan dengan Tuhan.
Dihadapanya, batu besar tarhampar lebar. Batu itu, ia beli dari salah satu pamahat di Gunung Kidul yang ia siapkan sebagai sebuah panggung. Panggung untuk lahirnya sebuah karya, sebuah pertunjukan rakyat dan buah-buah kesenian lainnya.
“Entah karya siapa, itu terserah. Panggung ini bias digunakan siapa saja,” katanya dalam sambutan hari peresmian bangunan itu.
Tapi kini, panggung itu hanya menjadi kenangan yang dilupakan oleh pemuda-pemudi kampungku.
“Tak ada karya, tak ada pertunjukkan, dan tak ada kesenian apapun yang lahir dari batu itu lagi, ” cemasnya satu waktu.
Kemuian Cak Nur beranjak meninggalkan bangunan itu. Tak lama adzan subuh diserukan oleh Pak Leman dari langgar tempat biasa ia melakukan sembayang lima waktu.
Ketika sampai di langgar, Cak Nur ketinggalan satu rakaat. Tanpa ragu ia masuk dalam jamaah. Ia ikuti gerakan imam dan para jamaah lainnya dengan patuh. Sampai mereka mengucapkan salam bersama-sama, dengan mantap ia menyempurnakan hitungan rakaatnya. Di akhir sujudnya, ia mengadu.
“Tuhanku…!!!”

Klise

Dalam pantai kutemukan
deru ombak dan putih pasir berdesir
Dalam taman kutumukan
kupukupu sedang hinggap
di atas mawar putih berduri
dalam awan ku temukan biru ,
hitam pekat
Tak kekal

semua indah
tapi tak pernah memberiku kedamaian

Namun…
Dalam dirimu kutemukan surgaku
Bersemayam dalam damaimu.

10/11/11

Negeri para mati



oleh; Hasyim Zain


Air mata menjadi mata air
dalam negeri para mati
Mengalir deras dari atas bukit
meruntuhkan kaki langit

Membandang menerjang
segala yang gersang.
Membangkitkan semua yang mati

Genangi negeri
Genangi bumi
Genangi hati
Air tak bisa menepi
Tak temukan titik bumi

Semuapun terlanjur
Mati dalam negeri
Dan semua pun tak bisa bangkit
Dengan air yang telah melangit.


*dikutip dari naskah RAYNA ,teater KOREK universitas islam45.

PENCARIANKU

Kucari damai dalam diam
Tak kudapat sepatah kata Kecuali
kemunafikan yang terbungkam
Hingga ruh-ruh jiwa bergelora dalam kefanaan

Kucari sunyi dalam kegelapan malam
Tak kutemukan, kecuali
keras akan kehidupan
Hingar-bingar dalam kesunyian.

Dimana kan ku berlabuh?

Sedangkan di setiap jengkal bumi
Para malaikat berbisik
lewat kabut-kabut berembun
dan terasa hari begitu mengusik.

23/04/09

Celoteh

Andai saat itu aku bisa berkata, kan ku ucapkan kata padamu.
"Aku tak mau keluar dari rahimmu"
Ibu...
bukan aku tak mau jadi anakmu, karna aku tau, kelak, Aku akan durhaka padamu.
Tapi kau tetap bangga, walau aku tak mau sujud dibawah lututmu.

Senja Kala

Betapa karibnya angin dan
pohon-pohon kala senja tiba
Menggenggang seluruh
peluh yang dimainkan manusia

Namun senja yang hadir
di pelipis mataku
Membuat aku kaku
Tuk menyapa cinta

Betapa karibnya rembulan
Dan bintang tika malam
Mencekam memeluk seluruh
Asa yang dimainkan Tuhan

Namun malam yang datang
Kepadaku, menikam jantungku
Gagu(gemetar)
Tuk mengungkap segala cinta

Mungkin takkan sampai
Kalaupun kau tau
Gagu, kaku,
Dan kau Membisu.

23/03/09

FRAGMEN

Anak berkantung plastik bekas

lahir di ruang tanpa berkas

berkelahi dengan dunia keras

bernyanyi bebas

berteriak lepas

tersengat matahari: panas.

Anak berkantung plastik bekas

berlari mengejar cakrawala

menjual karya

bukan meminta,

karyanya tak diharga.

Anak berkantung plastik bekas,

menembus malam

di bawah kolong jembatan

berkawan kelam

tak punya harapan

KABAR DARI TAMAN

Tamanku kini tak seramai dulu

tak ada kupu-kupu

yang mau menyanyi di atas mawarku

dengan merdu

Semua pergi

meninggalkan mawarku yang berduri

walau telah ku lumuri wangi kasturi

ia tetap saja tak dihinggapi

Semerah darah

mawarku mengundang lebah

tapi lebah

datang dengan tak ramah

menghisap madu

membuat mawarku layu

dan tak sesyahdu dulu

Ada kumbang beryanyi di balik ilalang

menghibur mawarku yang harumnya hilang

entah akan berapa lama ia berlalu lalang

di tamanku yang nasibnya malang.

Jakarta, 12 Januari 2009