This is SENYUM VO SEA GAMES slide 1 title

Expresi kebersamaan kita, dalam mensukseskan SEASGAMES 2011

This is Gus Dur, slide 2 title

Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001...

This is "SEMANGAT" slide 3 title

Setiap orang harus merdeka dalam mentukan jalan hidupnya, jangan kalian nodai dengan kepentingan-kepentingan kalian, sehingga mereka merasa adalah BUDAK..

This is Semangat. slide 4 title

Dalam membagun negeri, harus ada rasa kebersamaan...

This is Benderaku slide 5 title

Indonesia harus harum, dan itu pasti BISA..

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

16/11/11

Dona Dona Bukan Lagu Biasa


Dona-dona adalah lagu yang sempat dibumikan di negri merah putih ini, tepatnya pada film Gie pada tahun 2008, yang digambarkan sebagai lagu kesukaan Soe Hok Gie. Lagu ini menggambarkan teriakan anak sapi yang terkekang di atas kereta yang akan di bawa ketempat pembantaian, dan anak sapi ini adalah sang penulisnya yang hidup pada masa kejayaan Nazi di jerman. Dona-dona sama dengan Dana Dana, dikenal juga sebagai Dos Kelbl, yaitu The Calf atau Anak Sapi. Dan dalam kamus yahudi dona adalah nama lain dari Adolai yaitu nama lain dari yahudi untuk memanggil-manggil Tuhan mereka.
Lagu ini diterjamahkan dari bahasa Yiddish yang ditulis oleh Aaron Zeitlin dan dikomposeri oleh Sholom Secunda yang berjudul Dana. Aaron Zeitlin (1898-1973) sendiri adalah anak dari sastrawan Yahudi, Hillel Zeitlin, tulisanya tentang sastra Yiddish, puisi dan para psikologi. Sedangkan Sholom Secunda (1894-1974) adalah seorang komposer Yahudi kelahiran Ukraina yang mengenyam pendidikan di Amerika. Dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, Prancis, Ibrani, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris.
Untuk bahasa inggris, pada mulanya diterjemahkan oleh sang komposernya sendiri Sholom Secunda, dengan mengganti kata “Dana”, menjadi “Donna”. Namun terjemahannya membuat lagu ini seakan tidak terlantunkan lagi. Sampai di pertengahan 1950-an lirik lagu ini diterjemahkan kembali oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz. dan menjadi populer setelah dinyanyikan oleh Joan Baez pada tahun 1960.
Dalam salah satu penggalan liriknya “On a wagon bound for market/ there’s a calf with a mournful eye / High above him there’s a swallow / winging swiftly through the sky. Menggambarkan anak sapi yang di dalam satu kereta kuda yang menuju ke pasar; dengan mata berduka; diatasnya ada burung; terbang cepat mengarungi langit. Sedangkan sapi itu menuju ketempat penjagalan. Sapi tersebut iri kepada burung-burung yang bisa terbang bebas dan kebebasan atas segala-galanya tanpa kekangan dengan jiwa yang merdeka.
Latar belakang penulisan lirik asli lagu ini tidak luput dari pengalaman penulisnya yang merupakan anak seorang Yahudi keturunan Khazar dari negara Khazaria, terletak diantara Laut Hitam dan Laut Kaspia yang sekarang dimiliki oleh negara Georgia. Pada waktu itu ia menggambarkan kejadian ayah kandungnya yang diseret oleh tentara Nazi untuk dibawa ke kamp konsentrasi Yahudi. Ia tidak bisa berbuat banyak, kecuali bersembunyi dibalik dinding-dinding. Dan menulis kejadian yang dialaminya dalam buku hariannya setelah beberapa waktu. 
Dalam catatanya, sang tani membawa sapi-sapi (yahudi) bukan untuk diperkejakan tapi untuk dimusnahkan. Karna sapi merupakan keyakianan penguasa saat itu yang ambigu antara mitos dan realita yang akan meruntuhkan singgasananya. Dan kemudian catatan ini di jadikan lagu teater Yidish. Dan Yidish sendiri adalah sebuah bahasa kelas atas Jerman yaitu bahasa Yahudi Ashkenazi.

11/11/11

Tangerang Selatan dan Demokrasi Masyarakat Urban

Demokrasi sebagai sistem yang dianut di Indonesia saat ini masih berada pada tahapan transisi dan perkembangan. Salah satu esensi dari demokrasi adalah kebebasan untuk beraspirasi serta berpartisipasi dalam proses demokratisasi tersebut. Dalam perkembangannya di Indonesia, hal tersebut diaplikasikan dengan salah satunya adalah rakyat diberikan otoritas penuh untuk memilih pemimpinnya secara langsung, baik dalam Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemilihan Umum (Pemilu), maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).  
 Otoritas penuh pada rakyat tersebut itulah yang memicu munculnya Partai Politik (Parpol) baru dengan jumlah tidak sedikit dengan dalih ‘membawa perubahan’, atau ‘menampung aspirasi rakyat’.  Parprol-Parpol yang ada berupaya menarik simpati rakyat dengan berbagai cara, baik dengan menawarkan program-program pembaharuan sampai menggunakan the power of money.

Pemilihan langsung, jika diasumsikan akan memunculkan pemimpin-pemimpin yang pro-rakyat sehingga kesejahteraan rakyatpun meningkat, maka semestinya Rakyat Indonesia sedang dalam tahapan peningkatan taraf hidup dimana semakin mengecilnya volume rakyat dengan taraf hidup dibawah garis kemisikinan. Namun pada kenyataannya, asumsi tersebut belum teraplikasi secara signifikan dan menyeluruh. Hal ini dikarenakan lebih banyak pemimpin yang pro-KKN dibanding dengan pemimpin yang pro-rakyat. Permasalahan KKN merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dalam sistem demokrasi pada tahapan transisi.
Menarik bila menyoroti demokrasi dari unit yang lebih kecil daripada Negara, yakni kota. Dalam hal ini adalah Kota Tangerang Selatan. Sebuah kota bentukan baru hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Sebagai Kota bentukan baru, Tangerang Selatan yang baru diresmikan pada 29 Oktober 2008, memulai merekonstruksi segala sesuatunya dengan kepempinan dan otonomi yang baru. Termasuk didalamnya merekonstruksi demokrasi dalam pemerintahannya.
Tangerang Selatan memiliki posisi yang sama dengan Bogor, Depok, dan Bekasi, yakni sebagai daerah urban, atau daerah penopang Ibu Kota. Keberadaannya adalah menjadi penopang yang baik dan juga kuat. Penopang yang baik dan juga kuat akan terjadi bila stabilitas demokrasinya berjalan baik. Karena hal itulah muara dari semua aspek ekonomi, sosial, maupun politik di pemerintahan daerah tersebut. Demokrasi yang terjadi di Tagerang Selatan adalah demokrasi masyarakat urban. Artinya adalah masyarakat sebagai pemilik aspirasi adalah tipe masyarakat urban dengan mobilitias tinggi.


Masyarakat Kota Tangerang Selatan secara resmi telah mumulai sejarah baru pelaksanaan demokrasi di daerahnya. Terbenruknya DPRD Tangerang Selatan pada tanggal, mengharuskan DPRD yang baru ini bekerja ekstra dalam membangun fondasi demokrasi di Tangerang Selatan.  DPRD adalah saluran demokrasi. Maka bila saluran itu tersumbat, aspirasi rakyat akan meluap ke luar berupa gerakan ekstra parlemeter. Langkah pertama memajukan Tangerang Selatan ialah dengan membenahi DPRD-nya. Dengan demikian prinsip-prinsip demokrasi pun akan berjalan dengan baik. Amartya Sen, penerima nobel bidang ekonomi menyebutkan bahwa demokrasi dapat mengurangi kemiskinan. Pernyataan ini akan terbukti bila pihak legislatif menyuarakan hak-hak orang miskin dan kemudian pihak eksekutif melaksanakan program-program yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Keadaan seperti itu, dalam Negara yang masih dalam masa transisi untuk menegakkan demokrasi sebenarnya masih belum teraplikasi secara signifikan. Bila hal tersebut dapat teraplikasisecara signifikan dalam pemerintahan Tangerang Selatan, maka akan mungkin meminimalisir kemiskinan yang ada di 7 kecamatan, yang dibagi lagi atas 49 kelurahan dan 5 desa di Tangerang Selatan itu.


Stabilitas dan keberhasilan demokrasi di Tangerang Selatan dengan Masyarakat urban didalamnya ditentukan oleh sejauh mana sebuah pemerintahan mampu menanamkan kultur demokrasi dalam budaya politiknya. Penerapan demokrasi dalam kelembagaan saja tidak cukup tanpa dibarengi penerapan nilai-nilai demokrasi dalam ranah kultur.